Siti Hajar, Potret Ibu yang Tegar

Siti Hajar, Potret Ibu yang Tegar

Perjuangan perempuan Indonesia mempunyai sejarah panjang. Perempuan Indonesia, bersama dengan laki-laki, berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan negara lain. Setiap tahun, tanggal 22 Desember, kita bersama memperingati perjuangan perempuan Indonesia dalam mencapai kemerdekaan bangsa. Apa kaitannya dengan perjuangan Siti Hajar?

Tanggal 20 Desember tahun ini berjuta-juta kaum Muslim berada di Gurun Arafah untuk menunaikan ibadah haji. Salah satu ritual dalam rangka ibadah haji adalah melakukan sai.

Dalam sejarah umat Islam, Siti Hajar, sebagai istri dan ibu, pada suatu hari ditinggal suaminya, Nabi Ibrahim, di gurun pasir yang kering, bersama bayinya, Ismail, dengan hanya diberi kurma dan sekantong air minum.

Siti Hajar bertanya, “Ibrahim, mengapa saya ditinggal di sini di mana tidak ada orang yang dapat memberi minum atau makan?”

Jawab Ibrahim, “Ini adalah perintah Allah.”

Siti Hajar menerima keputusan suaminya yang meninggalkannya karena itu adalah keputusan Allah. Juga karena suaminya ingin hidup dengan istrinya yang lain, Sarah.

Dengan menerima keputusan Ibrahim, Siti Hajar dihadapkan pada cobaan Tuhan yang sangat berat. Siti Hajar kemudian berjuang agar bayinya bisa memperoleh air susu.

Pada suatu hari air susunya tidak lagi keluar dan air dalam kantong sudah habis. Dalam kebingungannya, Siti Hajar berlari-lari antara bukit Safa dan Marwah sampai tujuh kali mencari air minum bagi bayinya. Pada saat akan melakukan untuk kedelapan kalinya, Siti Hajar tidak kuat lagi dan jatuh terkulai di samping Ismail yang menangis kelaparan.

Saat itulah disebutkan, malaikat Jibril menyemburkan air di tempat Ismail menangis sambil menendang-nendangkan kakinya. Siti Hajar melihat air keluar dari tempat di mana Ismail menendang-nendangkan kakinya. Siti Hajar berteriak karena melihat air kembali masuk ke dalam pasir. Ia berteriak, “Zumi, ya mubaraka (Berhentilah, ini air karunia Tuhan)”.

Air yang keluar kemudian menjadi kolam. Kolam yang berisi air suci sejak itu disebut sebagai zamzam, artinya berhenti. Siti Hajar minum air tersebut dan ia dapat menyusui Ismail lagi.

Upaya dan doa Siti Hajar dikabulkan Tuhan. Karena keteguhan hatinya, Siti Hajar disebut sebagai ibu peradaban baru. Ia juga potret ibu yang teguh hati perempuan memenuhi kebutuhan anaknya dalam perannya sebagai orangtua tunggal.

Peran penting

Siti Hajar adalah perempuan yang mempunyai peran penting dalam sejarah agama Islam. Nabi Muhammad bersabda, “Semoga Allah memberkahi ibu Ismail.” Adalah Nabi Muhammad yang menghormati keberadaan Siti Hajar.

Hingga sekarang, salah satu ritual haji adalah sai, berjalan/berlari-lari kecil tujuh kali antara bukit Safa dan Marwah sebagaimana dilakukan Siti Hajar.

Ritual haji sampai sekarang lebih dilakukan untuk memperingati kebesaran Nabi Ibrahim yang sebagai ayah telah meninggalkan anaknya, Ismail, bersama ibunya di gurun pasir yang kering kerontang. Sumur zamzam sebagai jawaban Tuhan terhadap doa Siti Hajar dalam mencari sumber kehidupan bagi bayinya sekarang lebih dikenal sebagai sumur zamzam Ismail. Tidak sekali pun jemaah haji diingatkan kepada ibunya, Siti Hajar, yang memperjuangkan agar Ismail tetap hidup.

Perjuangan Siti Hajar pantas menjadi inspirasi bagi perempuan dan laki-laki Muslim. Siti Hajar telah memanifestasikan semangat perjuangan, ketegaran, dan keteguhan hati perempuan dalam menghadapi cobaan Tuhan.

Menjadi inspirasi

Dalam rangka Hari Ibu yang tahun ini jatuh berdekatan dengan Idul Adha, perjuangan Siti Hajar sebagai ibu dan pejuang pantas diingat sebagai potret perempuan (Muslim) yang tegar dan keteguhan hati menghadapi cobaan, menghidupi sendiri bayinya dalam keadaan sulit. Sebagai istri dan ibu, ia tidak “berantakan” saat suaminya meninggalkannya bersama bayinya di tengah-tengah gurun pasir.

Dalam semangat Hari Ibu, patutlah perjuangan perempuan bernama Siti Hajar dirayakan sebagai Muslimah yang ratusan tahun lalu telah menunjukkan dan berhasil menegakkan hak dasar manusia, ialah hak hidup, sebagai hak asasi manusia.

Jutaan umat Islam sampai hari ini dalam rangka menunaikan ibadah haji tanpa selalu ingat akan Siti Hajar telah menghormati perjuangan dan jejak perempuan bernama Siti Hajar.

Dalam rangka Hari Ibu, keteguhan hati Siti Hajar merupakan contoh bagi perempuan dan laki-laki bahwa dalam kondisi menghadapi kesulitan kehidupan (akibat konflik, bencana alam, perubahan iklim, dan lainnya) perempuan yang masih dianggap “kurang” dibandingkan dengan laki-laki ternyata mampu bertahan dan mencari alternatif solusi sendirian.

Perjuangan Siti Hajar perlu diteladani sebagai perempuan pejuang penegakan hak hidup manusia. Ia sosok perempuan yang menerima keputusan Tuhan dan menghadapi cobaan hdiup dengan keteguhan hati luar biasa.

Ia perempuan yang kemudian meninggalkan pada umat manusia suatu sumber kehidupan: sumber air yang tidak pernah habis. Ia contoh apa yang dilakukan perempuan sering kali dianggap biasa, meskipun apa yang ia lakukan luar biasa.

Saparinah Sadli Pendiri Komnas Perempuan

http://64.203.71.11/kompas-cetak/0712/19/opini/4090210.htm

One Response

  1. Ass. wah selamat ya dik fithri…
    blognya bagus banget…malah lebih cantik dibandingkan blofg aku…
    ayo kita berlomba ngeblog…hi5…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: