TUKANG ODONG-ODONG…. ORANG-ORANG YANG MENANG

Saat ini sudah sangat terbiasa kita, khususnya di kampung-kampung, melihat sebuah “wahana” permainan murah meriah ini. Berawal dari keterusiran becak dari kota Jakarta akhirnya muncullah kreatifitas kaum “tersingkir”. Ide memodifikasi becak menjadi sebuah wahana permainan anak-anak seperti yang dapat ditemui di Mal-mal atau taman-taman rekreasi keluarga yang cukup mahal. Sekali naik komidi putar di mal paling tidak orangtua harus rela merogoh uang 5 ribu untuk sekali naik per anak atau permainan mobil-mobilan yang bergerak maju-mundur dengan harga sewa sekitar 2000 sampai 2500 sekali main per anak.

Kreatifitas memodifikasi becak menjadi wahana permainan anak-anak kampung yang murah meriah adalah cermin “membumikan” permainan modern yang terkesan mahal menjadi sangat murah dan tetap menghibur anak-anak. Cukup dengan 500-1000 rupiah orang tua dapat menyalurkan dahaga “permainan mal” anak-anaknya, selain itu permainan ini juga menjadi alat bantu orangtua untuk ‘menaklukan” anak agar mau makan atau mandi di pagi/sore hari.

Sederhana, namun ternyata Odong-Odong demikian wahana permainan anak ini disebut telah memberi warna kehidupan masyarakat menengah ke bawah di negeri tercinta ini. Di tengah kesulitan hidup yang mendera sebagian besar masyaraka Indonesia dewasa ini, sekiranya Odong-odong mampu menjadi “katup” pelepas kecemburuan sosial yang dialami anak-anaknya karena ketidakmampuan orangtua memfasilitasi bermain di mal atau taman rekreasi.

Di sisi lain bagi sang pengusaha mainan ternyata, odong-odong juga memberikan lahan pekerjaan bagi orang lain. Mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain, bisa jadi penghasilan tukang odong-odong dapat mencapai 15-50 ribu sehari dan akan meningkat saat akhir pekan atau musim liburan. Sebuah nilai yang bagi sebagain orang sangat mudah “dibuang” kaum borjuis namun sangat susah dicari oleh kaum “pinggiran” seperti tukang Odong-odong ini.

Setidaknya mereka tetap menjaga “martabat” kemanusiaannya dengan tetap berusaha dan bekerja untuk menghidupi diri dan keluarganya tanpa menengadahkan telapak tangan menunggu belas kasihan orang. Pengusaha hiburan seperti ini menjadi bukti bahwa bangsa ini memiliki kreatifitas dan semangat juang tinggi, setidaknya mereka mampu menyediakan sumber penghidupan secara mandiri . Tanpa mengeluh..tanpa mencela….tetap berusaha … merekalah orang-orang yang menang….

Tulisan ini dapat juga dibaca di

http://weesnugroho. staff.ugm. ac.id/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: